Patut Ditiru Prinsip Orang Tionghoa
Patut Ditiru Prinsip Orang Tionghoa

Patut Ditiru Prinsip Orang Tionghoa – Siapa yang mau tips sukses orang Tionghoa? Lo kenapa mesti orang Tionghoa? Ya, siapa sih yang bisa meragukan keuletan bangsa Tionghoa dalam menggapai mimpi? I guess no one!

Tiongkok dipilih karena mereka menawarkan fleksibilitas yang lebih baik dibandingkan dengan negara lain. Dan dalam beberapa hal, Tiongkok bahkan memiliki sumber daya alam yang tentu saja berguna untuk kepentingan produk Apple.

Kita tinggalkan sejenak semua produk made in China itu. Mama pasti kenal bukan dengan sederetan nama seperti, Mari Pangestu, Bob Sadino, Agnes Monica, Richard Oh, Olga Lydia? Barangkali ada di antara Mama yang ngefans sama mereka.

Ya, mereka adalah warga keturunan Tionghoa yang mengukir prestasi cemerlang di bidang masing-masing. Mereka sekaligus membuktikan, warga keturunan ini tak hanya bisa sukses sebagai pedagang saja.

Apa ya tips sukses mereka? Rahasianya, etos kerja dan semangat juang tinggi (meski terkadang juga bisa dinilai sangat ambisius) adalah koentjinya.

Satu contoh yang nyata, Agnes Monica. Siapa sih yang nggak tahu kerja keras artis ini untuk mencapai posisinya sekarang? Dia nggak pernah takut bermimpi! Kerja keras dilakukannya demi mewujudkan mimpi yang dirajut sejak kecil. Dan, hasil nggak akan pernah mengkhianati usaha.

Lihat Agnes sekarang, bisa tembus industri musik internasional bahkan diwawancarai oleh majalah fashion terkemuka, Vogue! Dan sekarang menjadi brand ambassador salah satu produk make up internasional bersama artis Hollywood, Megan Fox. Warbiyasaak! Agnes selalu memberikan terbaik dalam setiap karyanya dan patut untuk mendapat pujian.

Inilah 7 tips sukses orang Tionghoa dalam hidup

Nggak takut bermimpi

Meniti karier dari posisi paling bawah sekalipun, orang Tionghoa nggak gengsi. Sebab, walau masih berada di posisi paling bawah, mereka nggak takut bermimpi meraih jabatan paling tinggi.

Misalnya, ketika menjadi seorang loper koran, ia akan bermimpi memiliki sebuah penerbitan surat kabar.

Dengan menggenggam impian setinggi langit ini, disadari atau tidak, Mama pun akan berusaha mencari jalan dan menyusun strategi untuk mencapainya.

Orang Tionghoa amat percaya bahwa roda kehidupan itu selalu berputar. Suatu saat berada di bawah, namun di lain waktu pasti akan berhasil mencapai posisi puncak.

Bekerja dan bekerja

Bekerja dan menghasilkan suatu karya adalah salah satu cara untuk membuktikan kepada dunia tentang keberadaan diri kita. Betul?

Orang Tionghoa memegang hal ini sebagai pedoman hidup. Ibaratnya, apabila tidak bekerja ataupun tidak melakukan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain, lalu apa gunanya kita hidup?

Jika memakai filosofi ini dalam berkarier, maka itu berarti jangan selalu menakar tugas hanya dengan kepuasan materi. Sebab, dengan menghasilkan karya yang baik, Mama pun sudah memeroleh kepuasan pribadi dan makin menguasai bidang pekerjaan yang ditekuni saat ini.

Jangan lupa bahwa pembuktian berupa karya yang baik juga bisa menjadi ajang promosi diri. Bukan hanya pembuktian di perusahaan tempat Mama bekerja, namun juga akan sampai ke perusahaan tetangga.

Berpikir untuk 3 keturunan

Menurut filsafah Konghucu, bangsa Tionghoa selalu berpikir untuk tiga keturunan sekaligus, yaitu untuk dirinya sendiri, anak dan cucu.

Contohnya, apabila memiliki uang Rp. 50.000, maka ia nggak akan menggunakan seluruhnya untuk kepentingan pribadi, melainkan hanya sekitar Rp. 15.000 saja. Sisanya akan disimpan untuk keperluan anak dan cucu. Dengan bersikap hemat, mereka bisa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin muncul di kemudian hari.

Memang sih, kadang kala hemat itu beda tipis dengan pelit. Tapi, alasan orang Tionghoa untuk berhemat adalah agar tidak menyusahkan orang lain.

Apabila nggak bisa menghasilkan uang banyak, ia nggak mau menghabiskan harta dalam jumlah besar agar orang lain nggak perlu sampai terbebani oleh utangnya. Kebiasaan berhemat pun dimanfaatkan guna memupuk modal untuk mengembangkan usaha.

Never give up

Dalam hidup siapa sih yang nggak pernah ketemu dengan masalah? Tiap hari pasti saja ada masalah yang dihadapi. Namun, setiap orang juga memiliki cara berbeda dalam menyikapinya.

Orang Tionghoa percaya, setiap rintangan dalam kehidupan ini akan membawa dirinya pada kondisi yang lebih baik. Ibarat ujian kenaikan pangkat, kalau berhasil dilewati, makan akan memeroleh ganjaran yang lebih besar.

Ada pepatah klasik yang sejalan dengan hal ini. Yaitu, kehidupan seseorang hendaknya seperti ikan mas yang berhasil melompati jembatan naga.

Di Jepang dan Cina, ikan mas adalah lambang kekayaan dan kesejahteraan. Di sungai, mereka berenang menentang arus dari hilir ke hulu, untuk menangkap makanan. Walau sesekali terbawa arus, mereka berenang kembali menuju arah semula. Untuk menangkal kuatnya arus, ikan mas berenang menepi.

Pelajaran moralnya, setiap orang harus mau berusaha untuk mencapai sesuatu. Kalau menemukan masalah, jangan lekas menyerah dan berusalahlah mencari solusinya. Kemudian, maju lagi menuju tujuan semula.

Menguasai bisnis dari hulu ke hilir

Seorang pengusaha Tionghoa akan berusaha memangkas biaya produksi dengan cara menangani sendiri keseluruhan proses produksinya. Misalnya, seorang pengusaha mi instan akan membuat sendiri semua bahan baku mi. Tepung terigu, bumbu-bumbu diusahakan dibuat sendiri atau dengan menggandeng pemasok yang sudah dikenal sehingga bisa memberinya harga ‘miring’.

Jadi, selain berkonsentrasi pada bisnis hilir, pengusaha Tionghoa juga akan mengembangkan bisnis di hulu untuk mendukung keseluruhan usahanya.

Meski cara yang biasa ditempuh pengusaha Tionghoa ini secara ilmu ekonomi bisa berbahaya karena rawan terjadi praktik monopoli, Mama bisa mengambil sisi positifnya.

Contohnya nih, Mama bekerja bisa menerapkan tip ini dengan cara mengenal dan menguasai seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan posisi Mama di kantor.

Memberi pelayanan terbaik

Memelihara reputasi adalah poin penting yang harus dipegang setiap orang. Sebab, Mama sendiri akan enggan memiliki hubungan dengan seseorang yang nggak dapat dipercaya, bukan?

Dalam karir, menjaga reputasi dan nama baik bisa dilakukan dengan cara menepati janji, menaati tenggat pekerjaan, serta selalu menampilkan kesan baik di mata setiap orang yang berhubungan dengan Mama.

Di budaya Tionghoa, ada pepatah yang berbunyi, “Jika tidak pandai tersenyum, janganlah membuka toko.”

Kurang lebih maksudnya adalah dalam berkarier ataupun berbisnis, kemampuan kerja seseorang bukanlah hal utama yang dijadikan penilaian. Faktor yang nggak kalah penting adalah yang menyangkut kemampuan membawa diri dan kesediaan untuk memberikan service yang terbaik setiap kali mengerjakan sesuatu.

Memelihara relasi

Orang Tionghoa amat mementingkan kekerabatan dan relasi. Mereka percaya bahwa nggak ada orang yang mampu hidup sendiri tanpa ada bantuan orang lain.

Dengan memiliki relasi, peluang bisnis terbuka lebar. Bagi pengusaha Tionghoa, pelanggan juga termasuk relasi yang harus dijaga dengan baik. Bahkan, demi mendapatkan pelanggan setia, mereka nggak akan segan untuk merugi pada awalnya.

Pepatah mereka mengatakan, walau berisik dan membuang kotoran di mana-mana, seseorang tidak boleh menyembelih seekor angsa bertelur emas. Jadi, ibarat memelihara seekor angsa bertelur emas, maka seorang pengusaha wajib menjaga hubungan baik dengan pelanggannya.

Dalam berkarier, kita pun harus menjaga hubungan baik dengan rekan kerja, atasan, bawahan serta klien. Dengan menjaga keseimbangan dalam setiap hubungan yang dimiliki, niscaya kebahagiaan dan kesuksesan tidak akan berada jauh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bursa Taruhan Bola
http://www.infoligabola.net/
Joker338
S1288
Bandar88 Sbobet Online
Poker88asia
S128
Daftar Poker88
Daftar Joker123
Slot Uang Asli Play1628
Daftar Sbobet